sepakat untuk tidak sepakat

dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh beberapa teman terlihat begitu riuh oleh percakapan. kebetulan datang terlambat, jadi gak sempet tahu duduk masalah pembicaraan yang sebenarnya yang sedang asyik di bicarakan. dari intonasi dan gaya bicaranya, sepertinya membicarakan sesuatu yang menjurus pada perdebatan. masing-masing saling mempertahankan argumentasi dan memberikan alibinya yang berdasarkan berbagai hal.
sebenarnya topik pembicaraannya tidak terlalu berat, malah terlihat begitu konyol untuk diperdebatkan tetapi kenapa tiba-tiba jadi semakin terlihat begitu alot dan ngotot. namun inilah cerminan kebanyakan kita pada umumnya. begitu inginnya mempertahankan sesuatu yang mungkin hanya kita pahami. tidak berusaha untuk bagaimana memahami sesuatu itu dapat menjadi perbedaan hanya disebabkan oleh sudut pandang yang beda.
akhirnya, setelah sekian lama duduk, memdengarkan dan memperhatikan, sayapun buka suara. tidak untuk menyelesaikan ataupun memihak salah satu pendapat. saya hanya menganalogikan kepada masing teman-teman tentang penting sudut pandang untuk menghasilkan pendapat.
bila diantara kedua orang yang duduk atau berdiri saling berhadapan ada sebuah angka. ketika ditanyakan kepada si a angka berapakah yang terlihat di hadapannya, serta merta menjawab dengan lantang dan lugas, angka “sembilan” (9). namun sebaliknya kepada si b ditanyakan pula hal yang sama, maka ia pun menjawab dengan sikap yang sama, angka “enam” (6). tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar bila kita melihat secara keseluruhannya.
nah, disinilah baru masing-masing teman-teman menyadari tentang pentingnya memahami pendapat orang berdasarkan sudut pandangnya. sampai kapanpun di bahas dan di perdebatkan, kalau memang berangkat dari sudut pandang yang beda maka mutlak akan menghasilkan penafsiran, penilaian dan pemahaman yang beda pula.
pelajaran diatas dapat di jadikan ukuran atau tolak cara berpikir untuk bagaimana pentingnya memahami pendapat pihak lain yang memang pola, cara dan sudut pandang yang begitu beda. karena disinilah baru terlihat adanya kebesaran tuhan dalam menciptakan sesuatunya yang begitu kaya dan tidak mati dalam satu pengertiannya belaka. tinggal bagaimana kita memilih kepada begitu ragamnya pilihan yang memang disediakan tuhan untuk kita, asal kita harus mempertanggung jawabkan pilihan kita. bukan berani memilih dan menentukan tetapi melepaskan dari tanggung jawabnya, mau enanknya aja dong…!
disinilah makna musyawarah dan mufakat yang sesungguh yaitu sepakat untuk tidak sepakat. memahami pemaknaan ini berarti mengarahkan kita kepada kedewasaan berpikir dan berperilaku. yang akibat menghasilkan sikap kesadaran dan kedewasaan dalam menentukan sesuatu yang dilandasi atas pilihan bertanggung jawab. mudah-mudah perselisihan diantara kita selalu dapat menjadi kekayaan berpendapat bukan semakin memperuncing permalahan yang menjurus konflik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s