etika kebenaran? atau kebenaran beretika?

truthbanyak pendapat yang mencoba memahami dan memaknai kebenaran , namun biasanya kita hanya memamahami dari dasar-dasar kebiasan yang berlaku dalam masyarakat. etika dalam hal ini berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara dan aturan hidup yang baik dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari orang ke orang atau generasi ke generasi sehingga berpola dan terus berulang sehingga menjadi kebiasaan. lalu tepatkah kita menilai kebenaran dari sudut etika?
ada 3 jenis etika yang biasa digunakan dalam menilai suatu kebenaran :
1.    etika subyektif, secara definisi bisa diartikan bahwa suatu tindakan yang baik dan buruk tidaklah dinilai dari akibat, hasil atau tujuan., melainkan tindakan tersebut sudah dipahami dan diyakini secara subyektif telah mengandung makna kebaikan atau keburukan. dengan kata lain tindakan dianggap bernilai moral atau tidak bermoral karena tindakan itu dilaksanakan terlepas dari apa tujuan dan akibat dari tindakan itu, contoh berbohong, mencuri, dianggap mutlak merupakan tindakan buruk dan tidak bemoral dalam sudut etika ini.
2.    etika obyektif, dapat diartikan bahwa untuk menilai kebaikan dan keburukan berdasarkan tujuan atau hasil yang akan dicapai berdasarkan akibat yang di timbulkan dari suatu tindakan, bukan tindakannya. etika ini biasanya bersifat situasional objektif karena tujuan dan akibatnya sangat tergantung pada situasi tertentu. biasanya kita menyebut “white lie”, contoh, ketika kita di percaya menyimpan suatu informasi rahasia oleh orang lain maka ketika rekan kita yang lain menanyakan hal tersebut kepada kita maka kita akan segera menjawab bahwa kita tidak mengetahui apapun tentang informasi yang di maksud. tindakan kita untuk tidak mengatakan apapun kepada rekan kita (walaupun mengtahui) dapat dibenarkan demi suatu akibat yang tidak diinginkan yang berdampak membahayakan  bagi keseluruhan.
3.    etika kejadian,  sangat berbeda dengan pendekatan 2 etika diatas karena etika ini tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan dan penilaian moral dari norma universal. etika ini tidak ditentukan oleh  kenyataan bahwa seseorang melakukan suatu tindakan bermoral, melainkan ditentukan oleh kenyataan dalam keseluruhan  hidupnya, yaitu bagaimana seseorang menjalani hidup, apakah memiliki kecenderungan dalam bersikap dan berperilaku terpuji dalam menghadapi persoalan hidup, tidak dinilai dari tindakan satu per satu dalam menentukan kualitas moralnya.
sekarang, bagaimana kita dapat memahami kebenaran bila ternyata begitu banyak pendekatan yang dijadikan suatu pembenaran. yang pasti kebenaran tidak pernah berpihak kepada kita, kebenaran yang sesungguhnya masih menjadi tabir dan rahasia, hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Benar. kalau memang ada kesalahan itu memang telah menjadi kodrat kita, manusianya,  namun bila tersirat kebenaran sepenuhnya hanya milik Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s