tips untuk mengatasi hidup yang selalu kekurangan

tombstonebenarkah?  pernyataan diatas selalu tersirat dan menggelitik untuk jadi perenungan. entah pagi, siang, atau malam terus selalu muncul, bahkan di saat-saat senggang sekalipun.  kondisi ini ditambah buruk dengan melihat kenyataan keseharian akan gaya hidup yang terjadi di sekitar kita yang menunjukkan kecenderungan kehidupan dalam bentuk kemewahan dan konsumtif. akhirnya hanya menimbulkan kenelangsaan pribadi…, masih lebih baik! daripada menimbulkan pikiran kotor untuk selanjutnya menimbulkan motivasi dan tindakan untuk mewujudkan…astaghfirullah…mudah-mudahan jangan!
uraian tentang solusi hidup yang selalu kekurangan mungkin telah banyak kita dapatkan. entah dari pepatah-pepatah orang bijak, nasehat para orang tua atau referensi dari berbagai kitab suci. A sampai Z telah dijabarkan di sana. namun, kadang kita sendiri sering terjebak dalam situasi yang kita pun tidak dapat menghindar dari masalah “kekurangan” ini.
secara ekstrem, ada cara untuk mengatasi hidup yang serba kekurangan, yaitu dengan  mengalami “mati” (kematian).  mati atau kematian secara denotative memiliki makna (menurut kamus besar tata bahasa indonesia) adalah sudah hilang nyawanya; tidak hidup lagi:  atau secara umum mengandung pengertian proses hilangnya nyawa dari sesuatu benda yang mengalami hidup. ops, maaf, jangan protes dulu! kita belum sampai pada suatu kesimpulan.
secara logika empiris, cuma dengan cara ini segala permasalahan kekurangan hidup dapat teratasi, tetapi awas, ini bukan cara yang dianjurkan oleh kitab suci untuk mengatasi permasalahan ini, bahkan ini adalah larangan yang di berikan Tuhan untuk menyelesaikan permasalahan ini, kecuali bila anda telah sanggup menerima berbagai konsekuensinya. oke, mari kita lanjutkan.
dengan mati atau kematian maka semua “kekurangan”, “kebutuhan”, “kehausan” dan “kepuasan” akan terpenuhi atau tertutupi. artinya hanya dengan mati atau kematian semua kekurangan akan terpenuhi atau tertutupi. terjawabkah? belum.
pertanyaan selanjutnya adalah, dapatkah hidup kita akan terpenuhi di semua kebutuhan, sehingga tidak lagi mengalami kekurangan? atau hidup yang serba kekurangan seperti halnya  mati atau kematian yang dapat memenuhinya?
nah, mari kita renungkan, pada makna denotatif diatas sebenarnya telah tersirat makna konotatif untuk dapat menerjemahankan pengertian yang sesungguhnya. tentu alangkah bodohnya kita apabila kita hanya memahami atau  mengambil pengertian yang sifatnya “teks book” belaka tanpa mencernanya lebih dalam.
kejadian yang ada dalam kehidupan sehari-hari kita sebenarnya merupakan makna sebenarnya yang dapat kita ambil pengertiannya dalam makna lain yang tersirat.  kesalahan dari kita kadang sering menterjemahkannya secara lugas tanpa mengkaji lebih dalam tentang makna yang tersirat atau terkandung dalam pengertian-pengertian lain.
sebenarnya, di berbagai pengertian yang tersurat dalam kitab suci telah dijabarkan (meskipun hanya dalam bentuk-bentuk simbolis, pemaknaan, atau penggambaran serta analogi) tentang berbagai hal, termasuk tentang tuntutan hidup yang sesungguhnya.
pengertian mati atau kematian diatas di jabarkan dan diaplikasi dalam bentuk-bentuk yang baku tentang bagaimana manusia harus mengatasi permasalahan hidup dengan cara berpuasa.
pengertian berpuasa yang sesungguhnya inilah yang kadang luput dari konteks terjemahan yang kita pahami. secara luas menahan diri dari makan dan minum bukan hanya sekedar menghentikan kegiatan memasukan makanan dan minuman kedalam tubuh kita, tetapi jauh lebih dari pada itu.  pengertian berpuasa yang dangkal tersebut sebenarnya merupakan awal untuk menggali dari pedalaman pengertian yang memahami makna selanjutnya tentang bagaimana menahan diri dari “pikiran”, “amarah”, “emosi”, “keinginan”, “ambisi” dan sifat-sifat lain yang cenderung menimbulkan harapan (expectation) dari kegiatan yang berbuah hasil. bahayanya dari suatu harapan adalah apabila harapan tersebut tidak menimbulkan hasil seperti yang kita harapkan. wah, celaka!
jadi pemaknaan akan berpuasa sebenarnya juga memiliki makna mati atau kematian secara konotatif. mematikan segala aspek hawa nafsu yang menjurus pada tindakan dan kegiatan yang menimbulkan harapan secara berlebihan. artinya berpuasa akan menghasilkan badan atau tubuh yang sehat juga ketenangan pikiran dan bathin yang tetap terjaga dari berbagai hal yang dapat menimbulkan permasalahan dan kekurangan. berpuasalah – dalam yang sesungguhnya- dalam hidup kita, agar kita tidak pernah mengalami kekurangan dalam kebutuhan hidup.
maka matilah dalam hidupmu, jangan mati dalam kekurangan!
semoga bermanfaat….

Iklan

2 pemikiran pada “tips untuk mengatasi hidup yang selalu kekurangan

  1. Mengapa manusia selalu merasa kekurangan? karena semua dihitung berdasarkan materi, sehingga kuranglah rasa bersyukur. Padahal alhamdulillah walaupun gaji pas2an, kita masih dianugrahi kesehatan untuk bisa berangkat kerja setiap hari, masih dianugrahi anggota tubuh yang lengkap dan masih banyak lagi…..

  2. Heheheh… bahasanya berat banget bos! Musti bolak-balik untuk mengerti maksudnya.

    Btw, tau nyambung tau kagak, saya lebih seneng berusaha untuk mematikan nafsu syahwat saya untuk hal-hal yang bikin kita nggak enak hidup. Misal,

    1) mematikan syahwat untuk tampil glamour sementara hidup pas-pasan,

    2) mematikan syahwat untuk tidak berlebihan dalam makan karena itu justru bisa bikin kita sakit mulai dari over weight, diabetes, jantung dsb,

    3) mematikan syahwat saya untuk nyakitin orang lain,

    4) mematikan syahwat saya untuk dengki kepada kebahagian orang lain dan lain-lainnya…

    Fiiuuh…. susah banget dah… 😆

    —- idealnya siy bukan dimatikan mas, tp mungkin lebih di kurangi aja ya…toh itu juga anugreah Tuhan. Thks a lot udah mau bolak-balik baca!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s