memaknai “ora rumongso biso” dan budaya demokrasi

sos-democracy-democratie-particratie-bart-somers-bart-dewever-libertarianbememaknai kata-kata bersayap yang berasal dari bahasa jawa, “ora rumongso biso” yang secara harfiah bisa di terjemahkan ke dalam bahasa indonesia menjadi “tidak merasa bisa”, memang butuh penjabaran yang tidak mudah. namun sebenarnya, apa makna kata-kata tersebut?
seperti halnya budaya jawa yang sarat  akan atsmosfer mistis, arti kata-kata tersebut tersebut diatas juga tidak dapat diterjemahakan dalam pendekatan yang empiris dan logis, artinya tidak hanya dapat di maknai dari sudut arti kata per kata tetapi harus di cari arti makna yang penuh maksud yang tersembunyi dari kata-kata tersebut.
menurut ujar-ujar dari para sesepuh (atau lebih sepuh) makna kata-kata tersebut bahwa seseorang tidak boleh merasa lebih tahu dari orang lain, artinya kita tidak boleh memandang atau beranggapan bahwa  kita (pribadi) yang paling tahu (akan sesuatu perihal,), sedangkan orang lain tidak lebih tahu daripada kita.
apabila kita senantiasa mampu bersikap untuk tidak merasa lebih tahu dari orang lain, maka akan timbul kebiasaan lain yaitu kebiasaan untuk “bertanya”.   budaya bertanya inilah yang menimbulkan tendensi positif yang nantinya juga berakibat pada kebiaasaan-kebiasaan lain seperti : berdiskusi, berargumentasi, musyawarah, meeting, sharing atau lain. dengan syarattetap mengembangkan kedudukan yang seimbang antara kita dan lawan bicara sehingga tidak ada yang merasa lebih atau kurang dari satu dengan yang lain.
ketika sikap seperti tersebut diatas dapat dikembangkan menjadi kebiasaan yang membudaya secara benar, maka prose’s demokratisasi dalam masyarakat akan diletakkan pada posisi yag diharapkan. karena dengan masing-masing pengertian dan pemahaman yang sama menjadikan tidak ada pembatasan hak bicara tetapi juga tidak asal bicara.. masing-masing pihak akan  membatasi dirinya dan tidak mementingkan “egonya” dalam mencari penyelesaian masalah secara lebih baik dan bersama-sama,
dan apabila terjadi suatu perselisihan atau beda pendapat tentang suatu masalah tersebut, maka “…kembalilah ia kepada allah (al quran dan rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada allah…dst” (an-nissa:59).
dari uraian singkat diatas, maka pemahaman makna “ora rumongso biso” dapat diartikan sebagai berikut,  pertama, bahwa kebenaran mutlak itu hanya milik tuhan yang maha esa; kedua, bahwa kebenaran bisa saja terdapat pada diri kita, diri orang lain atau berada di luar sana (the truth is out there…-“the x files”)
oleh sebab itu tidaklah tepat apabila ada anggapan  bahwa kita yang paling benar, paling berkuasa dan paling menentukan. bahkan jikalau terjadi permasalahan beda pendapat maka jalan terbaik adalah mohon petunjuk kepada sang khalik dan bermusyawarahlah di antara kita.

Iklan

2 pemikiran pada “memaknai “ora rumongso biso” dan budaya demokrasi

  1. O jadi maksudnya adalah “Ojo rumongso luwih biso”, jangan merasa lebih pandai, lebih mampu dari orang lain.. tapi “Luwih bisoho ngrumangsani”,, lebih bisalah/lebih pandailah mawas diri… mungkin begitu ya Kisanak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s