rasional – irasional – supra irasional

humanmemahami kejadian yang terjadi di sekitar kita tidak lah cukup  hanya dengan beberapa parameter ukuran kebenaran, setidak ada tiga hal ukuran yang harus kita pahami agar kita dapat mengerti dan mencermati kejadian yang kita alami atau yang terjadi di sekitar kita. namun apapun yang (sudah) terjadi itu merupakan suatu ketentuan.
oke, sebelum masuk pada inti masalahnya, saya hendak mengungkapkan sedikit tentang organ dalam diri kita yang seringkali di gunakan sebagai alat penentu pembenaran (bukan kebenaran!).
otak, akal, pikiran (dan sebagainya,  yang menurut definisinya sering disamakan!) adalah salah satu alat yang digunakan untuk menentukan suatu penilaian kebenaran. dasarnya adalah akal melakukan prose’s menurut input informasi yang diterima oleh panca indra. kelima indra tersebut memberikan data yang akurat terhadap suatu informasi berdasarkan kinerjanya. kecenderungan adalah selalu mutlak terhadap nilai-nilai yang (telah) disepakati dari suatu kebiasaan.  sesuatu yang terjadi di luar akal akan selalu di pahami sebagai yang luar biasa. proses kepintaran berasal dari ukuran ini.
hati, bathin, rasa (dan sebagainya, yang juga kadang di samakan dalam definisinya!) adalah hal kedua yang di gunakan dalam menentukan kebenaran. sayangnya tidak banyak dari kita yang dapat dan mampu menggunakan ukuran ini dalam penggunaannya. kita lebih banyak terkecoh dan kemudian lari dari isyaratnya, sehingga ketika kejadian tersebut terjadi lepas dari ukuran akal maka ukuran bathinlah yang di benarkan kemudian. tetapi sayanganya, selalu terlambat. menilai dengan hati, bathin dan rasa juga bukan pekerjaan mudah, kadang ini juga menimbulkan perselisihan di dalam bathin. proses kecerdasan bersumber dari ukuran ini.
sekarang marilah kita coba ungkap definisi judul diatas.
rasional, menurut kamus besar bahasa indonesia di definisikan sebagai sesuatu yang menurut pikiran dan pertimbangan yg logis atau menurut pikiran yg sehat atau cocok dengan akal. sehingga pendekatan dengan ukuran ini sering menganggap bahwa pikiran dan akal merupakan satu-satunya dasar untuk memecahkan problem (kebenaran) yg lepas dari jangkauan indra atau paham yg lebih mengutamakan (kemampuan) akal daripada batin dan rasa. secara mudah sering di sebut empiris, logika berdasarkan nalar yang dalam arti adanya sesuatu kejadian yang bisa di terima oleh akal dan mampu di pahami oleh bathin dan rasa.
irasional, dalam definisinya di jabarkan sebagai sesuatu yang tidak berdasarkan akal (penalaran) yg sehat atau ukuran lain di luar ukuran akal. pendekatan ini sering di gunakan oleh mereka yang memang tidak memiliki kecenderung dan kemampuan secara akademis dan logis, namun dalam faktanya memang terjadi. tidak mampu di cerna akal tetapi dalam kejadian benar-benar terjadi dan dapat di pahami dan dimengerti secara bathin, artinya bathin yang membenarkan. sebagai contoh, beberapa kegiatan pengobatan alternatif adalah bentuk pendekatan kejadian ini. konyolnya, mereka yang telah mengerti dan memahami dengan mendekatan empiris dan logis kadang menggunakan pendekatan ini untuk mewujudkan hal-hal tertentu.
yang terakhir adalah supra irasional, berbeda dengan kedua pendekatan tersebut diatas, pendekatan ini bahkan tidak menggunakan alat ukur yang ada pada diri kita. hal ini memang di karenakan oleh ketidak mampuannya kedua alat dalam diri kita untuk mencerna dan memahami nilai kebenarannya tetapi kejadiannya terakui nyata. dalam arti, akal, bathin dan rasa tidak sanggup menterjemahkan secara pengakuannya namun kejadian memang benar-benar ada. hanya quran nur karim dan hadist-lah yang mampu menjawab tentang tabir kebenaran yang terakui kejadiannya. jangan kan untuk menterjemahkan kejadiannya, kadang menterjemahkan makna yang telah tersurat dalam quran dan hadist-pun tentang kejadiannya kita sering terpeleset dalam suatu kebenaran, yang akhirnya sering terpicu dalam konflik.
mudah-mudahan dalam ke depannya kita tidak selalu harus merasa dapat mampu menerjemahkan semua bentuk kejadian dalam ukuran yang di klaim sebagai suatu kebenaran. padahal kita hanya dapat memahami berdasarkan keterbatasan yang kita miliki,  yang cuma dalam batas pembenaran, bukan kebenaran!
mungkin ada pendapat yang lebih baik…….monggo silahkan….

Iklan

4 pemikiran pada “rasional – irasional – supra irasional

  1. masalahnya, ketika seseorang meyakini kebenaran yang menurutnya benar dia lalu menuntut semua orang untuk mengikutinya…

    —- mudah2an mas HeruSutimbulSetiawan bukan termasuk kelompok orang yang baru di sebutkan ya dan saya yakin memang bukan….

  2. “kita lebih banyak terkecoh dan kemudian lari dari isyaratnya”

    di sini permasalahannya.

    “sesuatu yang menurut pikiran dan pertimbangan yg logis atau menurut pikiran yg sehat atau cocok dengan akal”

    di sini permasalahan menjadi lebih rumit.

    “pendekatan ini sering di gunakan oleh mereka yang memang tidak memiliki kecenderung dan kemampuan secara akademis dan logis, namun dalam faktanya memang terjadi”

    tambah rumit lagih…

    “pendekatan ini bahkan tidak menggunakan alat ukur yang ada pada diri kita. hal ini memang di karenakan oleh ketidak mampuannya kedua alat dalam diri kita untuk mencerna dan memahami nilai kebenarannya tetapi kejadiannya terakui nyata”

    sedikit lagih…

    “padahal kita hanya dapat memahami berdasarkan keterbatasan yang kita miliki, yang cuma dalam batas pembenaran, bukan kebenaran!

    goooollll !!!! kedalam gawang sendiri….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s