berlari mengejar siapa? diam menunggu siapa?

wastedtimePernahkah memiliki ambisi untuk melakukan suatu hal dengan mengerahkan seluruh upaya kita? Tenaga, pikiran, materiil, waktu! Atau mungkin kita mencoba berdiam diri menunggu keajaiban yang jatuh dari langit? Bam! Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap? Berlari atau menunggu? Apapun yang kita lakukan tanpa kehendak, kuasa dan izinNya akan menjadi suatu keniscayaan! Bagaimana mengetahui bahwa apa yang akan kita lakukan mendapat restu dariNya?
Merenung sebelum bertindak sejatinya merupakan langkah awal untuk dapat menentukan dan mengetahui apakah sesuatu yang akan kita lakukan bisa terwujud dalam suatu realitas kenyataan seperti yang dikehenki atau kuasaNya yang menjadi ketentuanNya. Proses merenung (ngematke-jawa) adalah sebagian proses melihat dan membaca (iqra?) dengan menggunakan seluruh unsur keunggulan manusia. Akal dan bathin! Gabungan keduanya merupakan kekuatan yang dapat melihat dengan jernih segala tujuan yang hendak kita capai.
Dengan akal kita dapat menentukan aplikasi, perangkat, strategi dan resikonya, sedangkan dengan bathin kita dapat menemukan batasan, ukuran, dan kemampuannya Akal yang bersifat selalu memandang ke depan berlawan dengan bathin yang mengukur ke belakang, dalam arti bathin juga sebagai peringatan (alarm) dalam diri kita yang berfungsi sebagai pemberi tanda (sign) akan kapasitas diri terhadap muatan beban (tanggung jawab) yang di bentuk oleh akal. Bukankah, sebuah truk pengakut juga memiliki kapasitas sesuai dengan ukurannya? Kitapun makan sesuai dengan porsinya.
Kalau ini dapat kita lakukan barang seenak sebelum kita bertindak maka akan memberikan manfaat pada diri andai semua yang kita rencanakan memang di luar batas kemampuan. Jangan berandai-andai suatu keberhasilan tanpa mengetahui kapasitas untuk memperolehnya.
Proses bertindak atau melakukan sesuatu adalah hasil dari keunggulan akal sedangkan proses berdiam merupakan dominasi bathin. Tidak ada yang dapat menyimpulkan mana yang lebih baik atau lebih benar. Bertindak di luar kemampuan juga bukan perbuatan bijak, sebaliknya berdiam dengan harapan keajaiban juga bukan hal yang di benarkan. Biasanya, tindakan berdiam sering di konotasikan dan di dekatkan pada definisi pasrah! Idealnya tidak sepeti itu.
Pernah mendengar cerita atau melihat seseorang yang (terlihat) tidak melakukan apa-apa namun menemukan apa yang kita cari, sedang kita sendiri jauh dari keberhasilan? Atau juga pernah mendengar kisah caleg atau capilkada yang jatuh secara mental dan bertindak di luar akal sehat melihat kenyataan yang di luar harapan?
Berbagai anjuran yang tersebar di kitab suci menganjurkan manusia untuk menggunakan akalnya. Tetapi bukan serta merta melakukan segalanya hanya dengan instrumen akal belaka, karena sifat akal yang sejatinya hanya pandai berhitung – untung rugi, menang kalah, besar kecil, banyak sedikir dan sebagainya. Semua parameter kuantitatif sanggup di cerna akal sedang bagaimana batasan dan definisinya secara kualitatif yang hanya mampu di cerna dan di baca oleh bathin. Artinya sebelum menentukan suatu nilai (dengan menggunakan akal) haruslah di dahulukan pendefinisian dari suatu nilai tersebut.
Banyak orang mengagungkan akal, ideology otak! Semua hal hanya berdasarkan atas persepsi akal dan meniadakan parameter bathin sebagai batasannya, kalau pun ada tetap di kalahkan. Keyakinan berdasarkan ratio. Memang tidak sedikit yang berhasil namun ini juga harus di renungkan apakah hasil ini memang merupakan buah kerja keras atau sebuah ujian yang mengandung beban tersembunyi? Banyak kejadian ketika seseorang telah berhasil melakukan semua upaya dengan hasil yang memuaskan secara material namun tetap saja merasakan kehampaan, kekosongan bahkan ketiadaan! Kurang bersyukur? Ternyata memang ada tujuan sejati yang seharusnya menjadi arah bagi langkah kita ke depan.
Sebelum bersikap, berlari atau diam, tentukan dahulu apa yang menjadi tujuan dan arah diri kita. Seimbangkan kekuatan akal dan bathin. Yang akhirnya tujuan tersebut bukanlah arah yang kosong atau penantian yang sia-sia. Tuhan Maha Sempurna atas semua rencanaNya. Semoga bermanfaat dan mohon maafnya.

Iklan

3 pemikiran pada “berlari mengejar siapa? diam menunggu siapa?

  1. Wow!
    Jadi ingat waktu pertama bikin blog.
    Lamaaa sekali cuma jadi penonton. Gatel tangan mau nulis. Tapi mau nulis apa? Ragu melulu. Apa manfaatnya? Takut yg tertuang adalah kesia-siaan. Ucapanku akan dipertanggung jawabkan kelak. Liat tuh, saudara2mu bloggers, too much rubbish…kurang kerjaan, menyebar fitnah, dengki, hit n run, ngumpet di balik alamat URL, dll…
    Demikian dialog hati.
    Akhirnya kupilih bikin blog… atas pertimbangan bla…bla…bla…

    Nuhun akang, saya sudah di-link, what an honour!

    —- sami2 teh, syukurlah kalo udah seneng link-nya ke publish, abis cuma itu yang bisa lakukan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s