Pikir Itu Pelita Hati

Masih ingat pepatah ini? Simpel namun sarat makna dan berpengaruh untuk menentukan langkah menuju kebijaksanaan!

Dalam makna Kamus Besar (online) pribahasa ini di tafsirkan “menggunakan akal budi dan mempertimbangkan segala sesuatu dengan baik menjadikan seseorang lebih bijaksana”. Ada yang menarik dari tafsiran ini. “…mempertimbangkan sesuatu dengan BAIK….” terlihat simple tapi jelas arahnya!

Dalam arti berpikir akan menentukan kebaikan, namun faktanya malah gak begitu. Manusia cenderung berpikir untuk menentukan KEBENARAN sehingga aplikasi sikapnya lebih pada arah pembenaran dari sikap berpikirnya. Akibatnya, begitu mudah memberikan vonis SALAH terhadap hal-hal yang diluar pemikirannya! Jadi ga heran kalo banyak kejadian konflik yang ada berdasarkan pada perbedaan berpikir yang di akui keBENARannya…

Pikiranmu bukanlah kebenaran, seluruh dari kalianpun sepakat dan berpikir, tetap bukan kebenaran!

Kebenaran akan bersifat absolut, mutlak dan dapat di akui semua pihak dan di pandang sama di berbagai sudut. Jadi ketika timbul suatu konflik, renungkan bahwa itu bukanlah kebenaran! Mungkin ada yang dapat beragurmen bahwa kebenaran yang  dianut menurut sudut pandangnya, bisa saja benar tetapi sayangnya pengakuan tersebut jauh dari kaidah kebenaran itu sendiri!

Pribahasa sederhana ini jadi begitu menarik ketika mendekatkan pada 2 alat ukur yang beda! Manusia di karunia memliki 2 alat ukur, otak/akal dan hati/perasaan. Keduanyapun memiliki tugas dan wilayah yang berbeda!  Pikiran itu buah akal, sifatnya yang dominan lebih mengarah pada sisi numerik dan kuantitatif, hasilnya lebih mengarah pada benar dan salah; untung dan rugi; dsb. Hati/perasaan dianggap lebih mulia dengan mampu menghasilkan kejujuran dan kebohongan, kebaikan dan keburukan! Jadi, apakah kebaikan itu hasil dari buah pikir….he3x

Ibarat 2 buah kurva yang saling beririsan, maka kebaikan merupakan hasil irisan dari kurva akal dan hati. Kebaikan merupakan keselarasan dari 2 alat ukur manusia. Dikatakan baik karena berorientasi untuk tidak merugikan. Kaidah hati bekerja untuk tidak merugikan. Aplikasi kebenaran yang terkandung dalam kitab sucipun mengarah pada kebaikan bukan kebenaran!

So, yuk berpikir demi kebaikan bukan dengan kebenaran. Apa gunanya berpikir dengan mengakui kebenaran bila faktanya malah bersebrangan dan menuai potensi konflik….hi3x

7 Desember 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s